Budaya

Menguak Ajaran Kehidupan Serat Niti Sruti

Menguak Ajaran Kehidupan Serat Niti Sruti

Cara Tenteramkan Hati Rakyat

Memahami ilmu pertahanan dan keamanan akan mendatangkan ketenteraman negara. Syaratnya, pemimpin harus bisa mencipta ketenteraman hati rakyat sehingga negeri kuat dan aman. Lalu bagaimana caranya?

seratAJARAN ketiga bagi para raja Jawa yang diberikan Pangeran Karanggayam adalah ajaran meraih ketenteraman dengan ilmu pertahanan dan keamanan. Ajaran utamanya bertumpu pada pengendalian nafsu seorang pemimpin. Semuanya itu dijabarkan. Yeku tetep wong murka sawukir, yen sira mangkono iya mangsa den andela maneh, babasane sapa ta kang bangkit, amereki kori. Myang warangsasa anggung.

Artinya, jaka orang semacam itu adalah orang yang serakah segunung. Bila mungkin demikian tak mungkin akan dipercaya lagi. Pribahasanya, siapakah yang mau mendekati pintu yang telah dimakan rayap. Gambarannya, Pangeran Karanggayam soal sosok yang tak bisa mengendalikan nafsunya, serakah. Orang demikian sangat rentan membuat Negara goyah. Ketentraman tak terjaga, pertahanan dan keamanan negara sangat rapuh seperti pintu yang digerogoti rayap.

Untuk itulah ada beberapa nasehat penting bagi para pembesar negara. Pertama, perlu olah budi dan pekerti dalam mengeluarkan sesuatu yang masuk rahasia dalam hal ini rahasia negara. Diutamakan untuk selalu waspada, hati tetap awas dan tajam perasaannya. Mengetahui segala sesuatu yang rumit, dapatlah menyimpan yang harus dirahasikan supaya aman. (Ulah budi udaling lelungit, sira den waspaos. Kudu awas waskitha ing tyase, wruh samuning panuksma kang remit, namarma rasandi, saduning ri pudur) Baca lebih lanjut

Iklan
Categories: Budaya | 3 Komentar

Serat Gatholoco

Sekilas Serat Gatholoco

Gatholoco, suluk karya sastra Jawa klasik, berbahasa Jawa baru, berbentuk puisi tembang macapat, bernafaskan Islam dan berisi ajaran tasawuf atau mistik. Waktu penulisan pada hari senin. Pahing tanggal, 8 Jumadilawal 1962 Jawa. Isi teks menceritakan perbincangan atau perdebatan antara Gatholoco dengan Dewi Perjiwati mengenai hakikat pria-wanita, perilaku dalam asmaragama dan asal terjadinya benih manusia.

Tokoh Gatholoco digambarkan sebagai seorang anak raja Suksmawisesa dari kerajaan Jajarginawe yang berparas jelek sekali. Ia mempunyai seorang hamba yang sangat setia, bernama Darmagandhul yang tidak kalah jeleknya dari dirinya. Gatholoco disuruh bertapa oleh ayahnya agar ia menjadi orang yang sangat pandai berdebat, pandai tulis-menulis, dan pandai berhitung tanpa guru. Kelak ia akan mendapat lawan tangguh dalam berdebat mengenai kawruh kasunyatan “ Ilmu Sejati “ yang bernama Dewi Perjiwati.

Diceritakan tentang tiga orang guru mengaji, yaitu Abduljabar, Abdulmanab, Abdulgharib. Ketiganya amat fasih dalam membaca Al Quran, Fikih dan Nahwu. Mereka berjumpa dengan Gatholoco dalam perjalanan sewaktu mencari lawan berdebat tentang ilmu yang dikuasinya. Terjadilah perdebatan antara ketiga guru mengaji tersebut dengan Gatholoco. Perdebatan meliputi tentang arti orang yang memiliki ilmu, haram, atau najis dan arti halal. Gatholoco memenangkan perdebatan dan akhirnya mengajak mereka berteka-teki. Baca lebih lanjut

Categories: Budaya, Buku | Tag: , , | 2 Komentar