Potret Buruk Anak Indonesia

indosiar.com, JakartaEvoria tentang anak kembali riuh ketika menjelang hari keberadaanya diperingati. Momen sekedar selebration itu kembali berkumandang tiada bosan. Menjadi lebih riuh ketimbang suara nasib anak anak itu sendiri ketika kepentingan berbicara. Momen hari anak yang tiap tahun diperingati, seakan hanya sebagai simbul, bahwa negara itu memiliki satu hari untuk memperhatikan kaum anak anaknya.

Lantas bagaimana dengan nasib hidup di hari hari berikutnya. Pada kenyataan, tidak lebih penting dari egoisme dan kepentingan pribadi semata orang dewasa. Ya..posisi mereka bahkan hanya sampai layaknya barang yang diperjual belikan.

International Labour Organisation mencatat, sekitar 166 juta anak di seluruh dunia kini telah menjadi pekerja (buruh). Bahkan tak kurang dari 74,4 juta di antaranya terlibat dalam bentuk-bentuk pekerjaan berbahaya, seperti prostitusi dan peredaran narkoba. Laporan Organisasi Buruh Internasional (ILO), yang baru-baru ini dirilis sungguh mencengangkan, karena tren jumlah anak yang menjadi pekerja di sektor berbahaya terus meningkat.

Pemerintah Republik Indonesia yang telah meratifikasi Konvensi No. 182 tentang Penghapusan Bentuk-bentuk Pekerjaan Terburuk untuk Anak, telah menyatakan niat untuk segera mengambil tindakan agar praktik buruh anak segera dihapuskan. Melalui Kepres no. 12 tahun 2001, telah disiapkan rencana aksi pelaksanaannya melalui Komite Aksi Nasional.

Namun pada kenyataanya kondisi ekonomi keluarga yang buruk membuat anak terpaksa ikut mencari penghasilan untuk keluarga, bahkan tak jarang mereka terpaksa menempuh pekerjaan di sektor tergolong sangat berbahaya, “Anak, yakni mereka yang berusia di bawah 15 tahun, pada prinsipnya tidak boleh bekerja layaknya orang dewasa,” kata Arum Ratnawati, Kepala Penasehat Teknis Program Pekerja Anak ILO.

Buruh anak di Indonesia sebenarnya merupakan persoalan yang klasik. Pada tahun 1976, buruh anak di Indonesia diperkirakan hanya 13,9 persen anak. Tapi, seiring dengan krisis ekonomi dan angka kemiskinan yang terus naik, maka jumlah buruh anak pun melonjak.

Peta di Indonesia sendiri menunjukkan bahwa pada tahun 2004 diperkirakan 1,4 juta anak berusia 10-14 tahun menjadi pekerja. Sebagian besar dari mereka tidak mendapat peluang untuk bersekolah. Mulai dari sinilah kemudian potret masa depan suram mereka mulai terekam.

Semakin besarnya kebutuhan akan hidup yang harus mereka tunjang, dan semakin terhimpitnya kesempatan mereka dalam berkompetisi dalam memperoleh penghasilan mengharuskan anak-anak berada pada posisi yang tidak pada tempatnya. Menjadi Pembantu Rumah Tangga (PRT), terlibat dalam perdagangan anak dan eksploitasi seksual komersial, bekerja di sektor pertanian/perkebunan, anak jalanan dan terlibat dalam peredaran narkoba.

Berdasarkan riset ILO dan Universitas Indonesia antara tahun 2002-2003 menunjukkan, bahwa jumlah anak yang bekerja di sektor PRT jauh lebih tinggi dibandingkan sektor lain. Sedikitnya 700.000 anak di bawah usia 18 tahun telah bekerja sebagai PRT, dengan lebih dari 90 persen di antaranya adalah anak perempuan. Anak perempuan yang datang dari daerah pedesaan, umumnya memasuki dunia kerja sebagai PRT saat usia mereka baru 12-15 tahun.

“Anak-anak yang menjadi PRT kerap kali tergiur dengan janji-janji manis nan palsu akan mendapat gaji yang besar di kota, tanpa kejelasan soal jam kerja, jenis pekerjaan, dan kondisi tempat kerja,” kata Arum menjelaskan. Yang lazim menimpa PRT anak ini adalah bekerja 14-18 jam sehari, tujuh hari dalam sepekan, tanpa istirahat ataupun libur. Para majikan juga di banyak kasus menahan gaji mereka sebelum pulang kampung agar mereka tetap bekerja selama libur lebaran.

“Tak jarang kasus kekerasan dan penganiayaan pun dialami oleh PRT anak, karena mereka diisolasi dari dunia luar,” kata dia. Sektor prostitusi pun tak kalah menyesakkan hati. Kajian ILO di tahun 2003 menunjukkan, bahwa sekitar 21.552 anak bekerja sebagai pelacur di pulau Jawa.

Data mengenai prostitusi anak dan orang dewasa dari Departemen Sosial memperlihatkan, peningkatan 34 persen dalam kurun waktu 10 tahun, dari 65.059 di tahun 1994 menjadi 87.536 di tahun 2004 di seluruh Indonesia. Di tahun 2001 Kementerian Pemberdayaan Perempuan memperkirakan, bahwa 20-30 persen dari jumlah mereka yang ada di dunia prostitusi masih berusia di bawah 18 tahun. Wilayah-wilayah asal para pelacur anak ini biasanya dari desa-desa, dan minim fasilitas pendidikan, yang kemudian menyebabkan tingkat pendidikan mereka sangat terbatas.

Di sektor pertanian dan perkebunan peta buram masih marak, karena diperkirakan sekitar 1,5 juta anak usia 10-17 tahun bekerja di sektor pertanian dan perkebunan. Tiga provinsi dengan angka pekerja anak di sektor pertanian dan perkebunan terbesar adalah Sumatera Utara (155.196 anak), Jawa Tengah (204.406), dan Jawa Timur (224.075). Pekerjaan di sektor ini sangat berbahaya bila mengingat potensi pencemaran pestisida, temperatur ekstrim, dan debu organik yang membahayakan kesehatan.

Sebuah studi di Jawa Timur baru-baru ini mendapati bahwa 85 persen pekerja anak sektor pertanian dan perkebunan telah lulus Sekolah Dasar, namun hanya 13 persen yang melanjutkan pendidikan ke SMP. Sektor ke-4 yang dijadikan target penghapusan segera adalah, anak jalanan yang sangat rentan perdagangan manusia dan peredaran narkoba.

Departemen Sosial pada tahun 2005 memperkirakan 46.800 anak Indonesia telah menjadi anak jalanan di 21 provinsi. Bahaya yang dihadapi oleh anak jalanan sungguh serius, mulai dari tindak kekerasan, eksploitasi oleh preman, polusi, kecelakaan lalu lintas, perdagangan anak, dan perdagangan obat terlarang.

Riset ILO tahun 2004 menunjukkan, 133 dari 255 anak jalanan adalah pemakai obat-obatan, penghirup lem, dan peminum alkohol. Perkiraan ini diperkuat oleh kajian Universitas Atmajaya, yang simpulannya 464 dari 500 anak jalanan adalah pengguna obat-obatan terlarang, yang kemudian mendorong mereka menjadi pengedar narkoba.

Direktur ILO di Jakarta, Alan Boulton, menengarai biaya pendidikan yang lebih murah akan menekan angka pekerja anak. Dan kebijakan penurunan biaya pendidikan ini tentu harus mendapat dukungan penuh dari pemerintah, ujar Alan Boulton. Melalui perwakilannya di Indonesia, ILO bahkan telah melakukan intervensi dengan mencegah dan menarik anak yang bekerja di sektor terburuk agar tidak lagi bekerja di sana. Setidaknya 22.000 anak yang akan masuk dan menarik keluar dari sektor terburuk telah dilakukan.

Namun keyakinan rencana tulus ILO itu menjadi mungkin akan menjadi angan angan jutaan anak-anak yang berada di bawah garis kemiskinan ke depan. Setelah pemerintah menarik kembali program dukungannya terhadap pendidikan gratis yakni penghentian program Dana Bantuan Operasional Sekolah di 2010 mendatang.
Sepertinya anak anak Iindonesia harus kembali memilih apakah tetap bekerja dalam lingkungan berbahaya atau dibayangi pungutan biaya tinggi ketika duduk belajar dalam ruang sekolah.(Her)

sumber;  http://www.indosiar.com/kolom/81455/potret-buruk-anak-indonesia

Categories: Pengetahuan | Tags: , , | 1 Komentar

Navigasi pos

One thought on “Potret Buruk Anak Indonesia

  1. Nggak akan ada akhirnya, balad alkhodamah.

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

Buat situs web atau blog gratis di WordPress.com.

%d blogger menyukai ini: